Karya Tulis Ilmiah Prinsip-Prinsip Dalam Belajar

 

KARYA TULIS ILMIAH

PRINSIP-PRINSIP DALAM BELAJAR

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Disusun oleh :

Nama  :  BAEKANDI

NIM  :  1001037166

 

 

 

 

 

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PROF. DR. HAMKA

PJJ – UHAMKA

2011


KATA PENGANTAR

 

Dengan mengucapkan syukur alhamdulillah penulis dapat menyelesaikan karya tulis yang berjudul “Peran Orang Tua dalam Pendidikan”.

Adapun maksud dari penyusunan karya tulis ini adalah untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah di Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. HAMKA – PJJ UHAMKA Bogor.

Dalam menyusun karya tulis ini, penulis mendapat bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, melalui pengantar ini penulis ucapkan banyak terima kasih atas segala bantuan yang telah diberikan. Semoga semua kebaikan dibalas oleh Allah SWT dengan balasan yang berlipat ganda.

Karena terbatasnya pengetahuan serta kemampuan yang dimiliki, penulis menyadari bahwa dalam penyusunan karya tulis ini masih jauh dari sempurna dn masih terdapat kekurangan dan kesalahan baik dalam penyusunan kata, penulisan, maupun isi serta pembahasannya. Untuk itu saran dan kritik yang bersifat membangun sangat penulis harapkan demi perbaikan penyusunan karya tulis lain di masa yang akan datang.

Akhir kata, penulis berharap semoga karya tulis ini bermanfaat bagi penulis khususnya, dan umumnya bagi para pembaca.

 

Jasinga,  Juni 2011

Penulis

i

v

DAFTAR ISI

 

 

KATA PENGANTAR ………………………………………………………………………….       i

DAFTAR ISI ……………………………………………………………………………………….      ii

 

BAB I   PENDAHULUAN……………………………………………………………………      1

A.   Latar Belakang Masalah ………………………………………………………      1

B.   Pembatasan dan Perumusan Masalah……………………………………..      3

C.   Tujuan dan Manfaat Penelitian………………………………………………      3

D.   Metode Penelitian………………………………………………………………..      4

E.    Sistematika Penulisan…………………………………………………………..      4

 

BAB II PEMBAHASAN………………………………………………………………………      5

A.   Pengertian Belajar  ………………………………………………………………      5

B.   Ragam Alat Belajar ……………………………………………………………..      6

1.   Sarana Fisik ……………………………………………………………………      6

2.   Sarana Psikis ………………………………………………………………….      6

C.   Jenis-Jenis Belajar ……………………………………………………………….      7

D.   Prinsip-Prinsip Belajar ………………………………………………………….    10

E.    Asepk Yang Mendukung Terhadap Prinsip Belajar………………….    12

 

BAB III                                                                                                               PENUTUP                       13

A.   Kesimpulan…………………………………………………………………………    13

B.   Saran …………………………………………………………………………………    13

 

DAFTAR PUSTAKA

ii

vii

 

viii


BAB I

PENDAHULUAN

 

A. Latar Belakang Masalah

Belajar dalam kehidupan manusia mempunyai arti penting yang sangat besar. Hal ini disebabkan karena manusia dilahirkan dalam keadaan tak berdaya dan tak mampu melakukan apapun. Disamping itu, manusia juga dilahirkan dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu apapun. Namun, melalui proses belajar, terutama pada masa pertumbuhan, maka manusia sedikit demi sedikit mulai mengenyam berbagai ilmu pengetahuan dan keahlian lainnya (Skills).

Anak kecil (bayi) yang secara alamiah dibekali dengan sedikikit gerakan refleks, seperti gerakan tangan, kaki, kelopak mata, menangis, dan bersuara yang tidak beraturan, merupakan gerakan yang tidak dipeoleh melalui proses belajar. Gerakan seorang bayi tersebut bersifat alamiah. Namun demikian, perlu diketahui bahwa gerakan refleks itu tidak berarti bahwa pada masa pertumbuhan tidak melalui proses belajar.

Bagaimanapun kondisinya seorang anak akan tetap melakukan proses belajar seperti mengatur gerakan tangan dan jari-jemarinya untuk menggenggam sesuatu dan belajar keahlian lainnya seperti seni atau menciptakan sesuatu setelah dewasa. Selain itu, ia akan belajar bagaimana mengatur gerakan kakinya agar dapat berjalan, berlari, memanjat, dan bermain bola atau olah raga lainnya. Ia pun melakukan proses belajar mengajar bagaimana mengatur gerakan suaranya supaya dapat mengucapkan kata-kata yang mempunyai makna seperti menyebut nama kedua orang tuanya, saudaranya atau nama lainnya. Ia juga belajar bagaimana menyusun kata-kata supaya jadi kalimat yang dipahami. Dan yang terpenting dalam perjalanan hidup seorang anak manusia akan selalu menghadapi hal-hal baru, menghadapi berbagai rintangan dan berbagai persoalan hidupnya. Untuk itu ia akan belajar mencari jawaban yang sesuai untuk menghadapi, menghalau, dan memecahkan persoalan tersebut.

Kemampuan belajar dan menarik pelajaran dari berbagai ujian merupakan kemampuan yang dimiliki oleh setiap manusia dan hewan dalam menghadapi hal-hal baru atau persoalan yang akan dihadapi. Kemampuan inilah yang menyebabkan manusia dan hewan mampu bertahan hidup dan melestarikan jenisnya masing-masing.

Kenyataannya setiap manusia tidak saja belajar bahasa, ilmu pengetahuan, seni kerajinan, dan keahlian lainnya; tetapi juga mempelajari adat-istiadat, orientasi yang berkembang ditengah masyarakat, moral dan sifat pribadinya. Berdasarkan asumsi ini maka belajar mempunyai arti penting yang menentukan dalam kehidupan manusia. Dalam ajaran Islam, pentingnya belajar bagi manusia ditunjukkan dalam ayat-ayat Al-Qur’an yang berkaitan erat dengan proses, belajar menulis, dan membaca.

 

B. Pembatasan dan Perumusan Masalah

1.   Pembatasan masalah

Untuk menghindari perbedaan persepsi serta pengarahan masalah agar tidak meluas, maka permasalahan dalam penelitian ini penyusun batasi sebagai berikut  :

a.   Belajar yang dimaksud adalah belajar yang dipahami secara umum.

b.   Hal-hal yang mendukung terhadap upaya dan proses belajar

2.   Perumusan masalah

Agar permasalahan yang akan dibahas dalam Karya Tulis Ilmiah  ini jelas dan terarah, maka perlu adanya perumusan masalah, yakni  :

a.   Bagaimana penilaian konsepsi belajar dilihat dari perspektif Islam

b.   Apa sajakah hal-hal yang mendukung terhadap proses belajar menurut perspektif Islam.

 

C.  Tujuan dan Manfaat Penelitian

Tujuan dari pembuatan Karya Tulis Ilmiah ini adalah sebagai berikut_:

  1. Untuk mengetahui pengertian belajar sehingga apa yang kita lakukan benar-benar terarah, jelas dan benar.
  2. Untuk mengetahui hal-hal yang mendukung terhadap proses pembelajaran, sehingga diketahui dengan jelas kerangka belajar yang baik dan benar.

Mengenai manfaat dari Karya Tulis Ilmiah  ini secara teoritis adalah untuk memperkaya khazanah keilmuan khususnya di lingkungan PJJ UHAMKA, maupun lingkungan akademis lain dan masyarakat pada umumnya.

 

D. Metode Penelitian

Dalam penelitian karya ilmiah ini, peneliti memakai jenis penelitian library research. Oleh karena itu, jenis data yang akan dibutuhkan adalah data kualitatif yang peneliti kumpulkan dari berbagai sumber tertulis, baik sifatnya primer maupun sekunder.

 

E. Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan Karya Tulis Ilmiah  ini terdiri dari tiga bab, yang setiap bab terdiri atas beberapa sub yang saling berkaitan, yaitu  :

BAB I, bab ini terdiri dari latar belakang masalah, pembatasan dan perumusan masalah, tujuan dan kegunaan penelitian, metode penelitian dan sitematika penulisan.

BAB II, dalam bab ini dijelaskan tentang konsepsi belajar yang terdiri dari pengertian belajar, ragam alat belajar, jenis-jenis belajar, prinsip-prinsip belajar, prinsip belajar dalam perspektif hadits dan urgensi belajar dalam persepektif Islam.

BAB III, sebagai penutup, bab ini berisi kesimpulan dari uraian pembahasan yang terdapat dalam bab-bab sebelumnya dan saran-saran yang merupakan kontribusi pemikiran dari penulis, ditujukan kepada segala pihak yang mempunyai tanggung jawab terhadap pembinaan akhlakul karimah terhadap anak khususnya orang tua yang mempunyai anak.

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

A.  Pengertian Belajar  

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, secara etimologis belajar memiliki arti “berusaha memperoleh kepandaian ilmu”. Sedangkan menurut beberapa tokoh, belajar dapat diartikan sebagai berikut :

  • Hilgard dan Bower

Belajar (to learn) memiliki arti : 1) to gain knowledge, comprehension, or mastery of trough experience or study, 2) to fix in the mind or memory, memorize, 3) to acquire trough experience, 4) to become in forme of to find out. Dengan demikian, belajar memiliki arti dasar adanya aktivitas atau kegiatan dan penguasaan tentang sesuatu.

  • Cronbach

Learning is shown by change in behavior as relust of experience. Belajar yang terbaik adalah pengalaman.

  • Spears

Menyatakan bahwa Learning is to observy, to read, to imitate, to try something themselves, to following direction. (Baharuddin & Wahyuni, 2007)

  • Skinner

Berpendapat bahwa belajar adalah suatu proses adaptasi atau penyesuaian tingkah laku yang berlangsung secara progresif.

  • Chaplin

Belajar adalah perolehan perubahan tingkah laku yang relatif menetap sebagai akibat latihan dan pengalaman. Belajar ialah proses memperoleh respon-respon sebagai akibat adanya latihan khusus.

  • Hintzman

Belajar adalah suatu perubahan yang terjadi dalam diri organisme (manusia atau hewan) disebabkan oleh pengalaman yang dapat mempengaruhi tingkah laku organisme tersebut.

 

  • Wittig

Belajar adalah perubahan yang relatif menetap yang terjadi dalam segala macam atau keseluruhan tingkah laku organism sebagai hasil pengalaman.

Dari pengertian beberapa tokoh tersebut, secara umum belajar dapat dipahami sebagai tahapan perubahan seluruh tingkah laku individu yang relatif menetap sebagai pengalaman dan iteraksi dengan lingkungan yang melibatkan proses kognitif. (Syah, 2007).

 

B.  Ragam Alat Belajar

Manusia diciptakan oleh Allah dalam keadaan tidak berpengetahuan, akan tetapi Allah telah membekali manusia dengan potensial yang bersifat jasmaniah dan rohaniah untuk belajar dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk kemaslahatan umat manusia.

Adapun ragam alat fisik-psikis itu, seperti yang terungkap dalam beberapa firman Allah, adalah sebagai berikut :

1.   Sarana Fisik

Dalam Al-Qur’an, diantara indra-indra eksternal, hanya mata dan telinga yang sering disebut.

  • Indra penglihat (mata), yakni alat fisik yang berguna untuk menerima informasi visual.
  • Indra pendengar (telinga), yakni alat fisik yang berguna untuk menerima informasi verbal.

2.   Sarana Psikis

  • Akal, yakni potensial kejiwaan manusia berupa sistem psikis yang kompleks untuk menyerap, mengolah, menyimpan, dan memproduksi kembali item-item informasi dan pengetahuan (ranah kognitif).
  • Kalbu, mempunyai dua arti, yakni fisik dan metafisik. Qalbu dalam arti fisik adalah jantung (heart), berupa segumpal daging berbentuk lonjong. Terletak dalam rongga dada sebelah kiri. Sedangkan dalam arti metafisik qalbu dinyatakan karunia Tuhan yang halus  bersifat ruhaniah dan ke-Tuhan-an , yang ada hubungannya dengan jantung. Dengan demikian, arti kalbu yang lebih realistis ialah “akal” atau “sistem memori” yang tempatnya di dalam otak, bukan didalam jantung atau dalam hati manusia. (Baharuddin & Wahyuni, 2007).

 

C.  Jenis-Jenis Belajar

Ada bermacam-macam kegiatan yang terdapat dalam proses belajar. Kegiatan ini memiliki corak yang berbeda antara satu dengan yang lainnya, baik dalam aspek materi dan metodenya maupun dalam aspek tujuan dan perubahan tingkah laku yang diharapkan. Keanekaragaman jenis belajar ini muncul dalam dunia pendidikan sejalan kebutuhan manusia yang juga bermacam-macam. (Hartati, dkk, 2005). Jenis-jenis belajar itu antara lain :

1.   Belajar abstrak

Belajar abstrak ialah belajar yang menggunakan cara-cara berpikir abstrak. Tujuannya adalah untuk memperoleh pemahaman dan pemecahan masalah-masalah yang tidak nyata. Misalnya belajar matematika, kimia, kosmografi, astronomi, dan juga sebagian materi bidang studi agama seperti Tauhid.

2.   Belajar keterampilan

Belajar keterampilan adalah belajar dengan menggunakan gerakan- gerakan motorik, yakni yang berhubungan dengan urat-urat syaraf dan otot-otot neuromuscular. Tujuannya adalah memperoleh dan menguasai keterampilan jasmaniah tertentu. Misalnya belajar olah raga, musik, menari, melukis, memperbaiki benda-benda elektronik dan juga sebagian materi pelajaran agama, seperti ibadah : shalat dan haji.

3.   Belajar sosial

Belajar memahami masalah-masalah dan teknik-teknik untuk memecahkan masalah-masalah tersebut. Tujuannya adalah untuk menguasai pemahaman dan kecakapan dalam memecahkan masalah-masalah sosial. Selain itu, belajar sosial juga bertujuan untuk mengatur dorongan nafsu pribadi demi kepentingan kepentingan bersama dan memberi peluang kepada orang lain atau kelompok lain untuk memenuhi kebutuhannya secara berimbang dan proporsional.

4.   Belajar pemecahan masalah

Belajar pemecahan masalah adalah belajar menggunakan metode- metode ilmiah atau berpikir secara sistematis, logis, teratur, dan teliti. Tujuannua adalah untuk memperoleh kemampuan dan kecakapan kognitif untuk memecahkan amsalah-masalah secara rasional, lugas dan tuntas. Hampir semua bidang studi dapat dijadikan sarana belajar pemecahan masalah.

5.   Belajar Rasional

Belajar rasional adalah belajar dengan menggunakan kemampuan berpikir secara logis dan rasional. Tujuannya ialah untuk memperoleh aneka ragam kecakapan menggunakan prinsip-prinsip dan konsep- konsep. Jenis belajar ini sangat erat kaitannya dengan erat dengan belajar pemecahan masalah. Sama dengan bidang studi untuk pemecahan masalah, belajar rasional tidak memberi tekanan khusus pada penggunaan studi eksak.

6.   Belajar pembiasan

Belajar pembiasan adalah proses pembentukan kebiasaan-kebiasaan baru yang telah ada. Tujuannya agar siswa memperoleh sikap-sikap dan kebiasaan-kebiasaan perbiatan baru yang lebih tepat dan positif, dalam arti selaras dengan kebutuhan uang dan waktu.

7.   Belajar Apresiasi

Adalah belajar mempertimbangkan arti penting atau nilai suatu objek. Tujuannya adalah agar siswa memperoleh dan mengembangkan kecakapan, affective skills yang dalam hal ini kemampuan menghargai, secara tepat terhadap nilai obnjek tertentu. Bidang-bidang studi yang dapat menunjang tercapainya tujuan belajar apresiasi antara lain : bahasa dan sastra, kerajinan tangan, kesenian, dan menggambar.

8.   Belajar Pengetahuan

Adalah belajar dengan cara melakukan penyeledikian mendalam terhadap objek pengetahuan tertentu, dengan melibatkan kegiatan investigasi dan eksperimen. Tujuan belajar pengetahuan adalah agar siswa memperoleh atau menambah informasi dan pemahaman terhadap pengetahuan tertentu yang biasanya lebih rumit dan memerlukan kiat khusus untuk mempelajarinya. (Syah, 2007).

9.   Belajar Berpikir (Belajar Kognitif)

Berpikir adalah kemampuan jiwa untuk meletakkan hubungan antara bagian-bagian pengetahuan. Ketika belajar dilakukan, maka disana terjadi suatu proses. Oleh karena itulah, John Dewey dan Wertheimer memandang berpikir sebagai proses. Dalam proses itu tekanannya terletak pada penyusunan kembali kecakapan kognitif (yang bersifat ilmu pengetahuan).

Taraf

Nama Taraf Berpikir

Macam Kerja Tarap Pikir Yang Diajarkan

5

Evaluasi : Berpikir kreatif atau berpikir memecahkan masalah

ñ

Seluruhnya kerja berpikir  

4

Analisis dan Sintesis Berpikir menguraikan dan menggabungkan

ñ

   

3

Aplikasi Berpikir menerapkan

ñ

   

2

Komprehensif Berpikir dalam konsep belajar pengertian

ñ

   

1

Pengetahuan Belajar reseptif atau menerima

Tidak ada kerja berpikir

 

Setiap taraf berpikir tersebut akan melahirkan belajar yang berbeda, dengan hasil yang berbeda pula. Selain itu terlihat pula bahwa semakin ke atas semakin besar persentase tuntutan kerja pikir.

Pada taraf belajar menerima (taraf pertama) hampir tidak ada kerja pikir, sedangkan pada taraf kelima, praktis seluruhnya adalah kerja pikir. Sebenarnya pada taraf-taraf itu ada semacam kesinambungan dari taraf belajar menuju taraf kerja pikir. Dengan “belajar” dimaksudkan peniruan secara lengkap sedangkan berpikir dimaksudkan kerja kreatif secara lengkap. Semakin tinggi tarafnya akan semakin banyak tuntutan kerja pikir yang diperlukan. Tetapi tidak sepenuhnya kerja pikir selalu ada unsur mengingatkan dan menirukan.

 

10. Belajar Motorik

Orang yang memiliki suatu keterampilan motorik, mampu melakukan suatu gerak-gerik jasmani dalam urutan tertentu, dengan mengadakan koordinasi antara gerak-gerik berbagai anggota badan secara trpadu. Keterampilan semacam ini disebut “motorik”, karena otot, urat dan persendian terlibat secara langsung sehingga keterampilan sungguh-sungguh berakar dari kejasmanian. Ciri khas dari keterampilan motorik adalah “otomatisme” yaitu rangkaian gerak- gerik berlangsung secara teratur dan berjalan dengan lancar dan supel. Tanpa dibutuhkan banyak refleksi tentang apa yang harus dilakukan dan mengapa diikuti urutan gerak-gerik tertentu. (Djamarah, 2002)

11. Belajar Sikap

Sikap disiplin dan bekerja dengan jujur dengan menanamkan penghayatan dan perasaan melalui pemberitahuan, penanaman keyakinan, dan pembiasaan. (Hartati, dkk, 2005).

 

D.  Prinsip-Prinsip Belajar

Kegiatan belajar itu merupakan proses yang kompleks, bukannya proses yang sederhana. Belajar melibatkan bukan saja intelektualitas, tetapi juga fisik, emosi, sosial, persepsi dan sebagainya. Penggunaan prinsip-prinsip belajar disini secara empiris memang dapat dibenarkan dan secara efektif dapat disampaikan kepada para calon guru. Prinsip-prinsip belajar juga akan memberikan pemikiran psikologis kepada guru-guru dan calon guru untuk mendapatkan dan menemukan metode-metode mengajar yang jitu serta memilih secara lebih inteligen antara metode mengajar yang baru sehingga secara tepat dapat mengarahkan kepadanya.

Sehubungan dengan prinsip-prinsip belajar dimaksud, Nasution mengemukakan antara lain :

  • Agar seseorang benar-benar belajar, ia harus mempunyai suatu tujuan.
  • Tujuan itu harus timbul dari atau berhubungan dengan kebutuhan hidupnya dan bukan karena paksaan oleh orang lain.
  • Orang itu harus bersedia mengalami bermacam-macam kesukaran dan berusaha dengan tekun untuk mencapai tujuan yang berharga baginya.
  • Belajar itu harus terbukti dari perubahan tingkah lakunya.
  • Selain tujuan tujuan pokok yang hendak dicapai, diperolehnya pula hasil-hasil sambilan atau sampingan.
  • Belajar lebih berhasil dengan jalan berbuat atau melakukan.
  • Seorang pelajar sebagai keseluruhan, tidak dengan otaknya, atau secara intelektual saja tetapi juga secara sosial, emosional, etis dan sebagainya.
  • Dalam hal belajar seseorang memerlukan bantuan dan bimbingan dari orang lain.
  • Untuk belajar diperlukan “insight”.
  • Disamping mengejar tujuan belajar yang sebenarnya, seseorang sering mengejar tujuan-tujuan lain.
  • Belajar lebih berhasil, apabila usaha itu memberi sukses yang menyenangkan.
  • Ulangan dan latihan perlu, akan tetapi harus didahului oleh pemahaman.
  • Belajar hanya mungkin kalau ada kemauan dan hasrat untuk belajar. (Abror, 1993).

Beberapa prinsip belajar yang harus dimiliki oleh pendidik, antara lain:

  • Apapun yang dipelajari siswa, dialah yang harus belajar, bukan orang lain. Untuk itu, siswalah yang harus bertindak aktif.
  • Setiap siswa belajar sesuai tingkat kemampuannya.
  • Siswa akan dapat belajar dengan baik bila mendapat penguatan langsung pada setiap langkah yang dilakukan selama proses belajar.
  • Motivasi belajar siswa akan lebih meningkat apabila dia diberi tanggung jawab dan kepercayaan penuh atas belajarnya. (Baharuddin & Wahyuni, 2007)
  • Penguasaan yang sempurna dari setiap langkah yang dilakukan siswa akan membuat proses belajar lebih berarti.

 

 

 

E.  Asepk yang mendukung terhadap prinsip belajar

Prinsip belajar dapat mengubah perilaku manusia, mendidik jiwa dan membangun kepribadiannya. Prinsip belajar tersebut mencakup beberapa aspek sebagai berikut :

1.   Motivasi

Motivasi merupakan prinsip yang terpenting dari semua prinsip belajar. Hasil eksperimen menjelaskan pentingnya motivasi dalam proses belajar ini karena hasil dari berbagai studi menunjukkan bahwa belajar akan terjadi secara cepat dan efektif jika ada motivasi tertentu.

  • Membangkitkan motivasi dengan janji dan ancaman
  • Membangkitkan motivasi dengan cerita
  • Memberi hadiah

2.   Jadwal waktu belajar

Proses belajar harus ada jenjang waktu untuk istirahat. Oleh karenanya, prinsip belajar dengan membagi waktu belajar ini dapat menghilangkan rasa lelah dan bosan.

3.   Repetisi (pengulangan)

Mengulang dapat menjaga informasi dan ilmu pengetahuan yang telah diperoleh seseorang.

4.   Partisipasi aktif dan pelatihan praktis

Proses belajar akan tercapai secara baik jika seseorang pelajar berpartisipasi secara positif melalui pelatihan praktis

5.   Pemusatan perhatian

Seseorang tidak dapat mempelajari sesuatu tanpa berkonsentrasi, oleh karenanya, konsentrasi merupakan syarat utama dalam proses belajar. Dengan berkonsentrasi, seseorang dapat memahami apa yang dipelajarinya seperti yang diharapkan. Ada beberapa hal yang dapat dilakukan dalam rangka pemusatan perhatian, diantaranya adalah :

  • Memanfaatkan peristiwa penting untuk menggugah perhatian
  • Membangkitkan perhatian dengan mengajukan pertanyan
  • Membangkitkan perhatian dengan menggunakan perumpamaan
  • Memanfaatkan perhatian untuk menggugah konsentrasi

6.   Belajar secara bertahap

 

BAB III

PENUTUP

 

A.  Kesimpulan

Secara umum belajar itu sendiri dapat dipahami sebagai tahapan perubahan tingkah laku individu yang relatif menetap sebagai hasil pengalaman dan interaksi dengan lingkungan yang melibatkan proses kognitif.

Beberapa hal penting yang berkaitan dengan belajar antara lain :

  • Bahwa orang yang belajar dapat memiliki ilmu pengetahuan yang berguna untuk memecahkan masalah yang dihadapi oleh manusia dalam kehidupan.
  • Adapun yang dilakukan manusia harus mengetahui kenapa mereka melakukannya.
  • Dengan ilmu yang dimiliki manusia melalui proses belajar maka Allah memberikan derajat yang lebih tinggi kepada hambanya.

Alat-alat yang bersifat fisio-psikis itu dalam hubungannya dengan kegiatan belajar merupakan subsistem-subsistem yang satu sama lain berhubungan secara fungsional, bila tidak ada salah satunya maka manusia akan merasa lebih sulit untuk menerima pelajaran yang akan ia terima.

 

B.  SARAN

Dari penjabaran yang telah penulis uraikan, penulis hendak menyampaikan beberapa saran diantaranya :

  1. Hendaknya kepada tiap peserta didik bahkan sejak anak usia dini, ditekankan pemahaman akan kebesaran dan keagungan Al-Qur’an, sehingga ada kebanggaan tersendiri yang tertancap kuat dalam lubuk hati mereka, sehingga mereka mempunyai kerangka pemikiran dan cara pandang yang benar-benar sesuai dengan perspektif islam.
  2. Ditanamkan upaya penerapan prinsip-prinsip belajar yang sesuai dengan Al-Qur’an dan Al-Hadits, sehingga diperoleh hasil yang benar-benar optimal dari apa yang dipelajari dalam proses belajar tersebut.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

Ahmad, Abu. Supriono, Widodo. 1991. Psikologi Belajar. Jakarta : Rineka Cipta.

Fauzi, Ahmad, Drs. H., 2004. Psikologi Umum. Bandung : Pustaka Setia, Bandung.

Sabri, Alisuf. 1996. Psikologi Pendidikan. Jakarta : CV. Pedoman Jaya.

Suparno, Paul. 2001. Teori Perkembangan Jeans Peaget. Jakarta : Kanisius

 

 

KATA PENGANTAR

 

Dengan mengucapkan syukur alhamdulillah penulis dapat menyelesaikan karya tulis yang berjudul “Peran Orang Tua dalam Pendidikan”.

Adapun maksud dari penyusunan karya tulis ini adalah untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah di Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. HAMKA – PJJ UHAMKA Bogor.

Dalam menyusun karya tulis ini, penulis mendapat bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, melalui pengantar ini penulis ucapkan banyak terima kasih atas segala bantuan yang telah diberikan. Semoga semua kebaikan dibalas oleh Allah SWT dengan balasan yang berlipat ganda.

Karena terbatasnya pengetahuan serta kemampuan yang dimiliki, penulis menyadari bahwa dalam penyusunan karya tulis ini masih jauh dari sempurna dn masih terdapat kekurangan dan kesalahan baik dalam penyusunan kata, penulisan, maupun isi serta pembahasannya. Untuk itu saran dan kritik yang bersifat membangun sangat penulis harapkan demi perbaikan penyusunan karya tulis lain di masa yang akan datang.

Akhir kata, penulis berharap semoga karya tulis ini bermanfaat bagi penulis khususnya, dan umumnya bagi para pembaca.

 

 

Jasinga,  Juni 2011

i

Penulis

v

DAFTAR ISI

 

KATA PENGANTAR ………………………………………………………………………….      v

DAFTAR ISI ……………………………………………………………………………………….    vii

 

BAB I   PENDAHULUAN……………………………………………………………………      1

A.   Latar Belakang Masalah ………………………………………………………      1

B.   Pembatasan dan Perumusan Masalah……………………………………..      3

C.   Tujuan dan Manfaat Penelitian………………………………………………      3

D.   Metode Penelitian………………………………………………………………..      4

E.    Sistematika Penulisan…………………………………………………………..      4

 

BAB II PEMBAHASAN………………………………………………………………………      6

A.   Pengertian Belajar  ………………………………………………………………      6

B.   Ragam Alat Belajar ……………………………………………………………..      8

1.   Sarana Fisik ……………………………………………………………………      8

2.   Sarana Psikis ………………………………………………………………….      9

C.   Jenis-Jenis Belajar ……………………………………………………………….    10

D.   Prinsip-Prinsip Belajar ………………………………………………………….    18

E.    Asepk Yang Mendukung Terhadap Prinsip Belajar………………….    20

 

BAB III                                                                                                               PENUTUP                       27

A.   Kesimpulan…………………………………………………………………………    27

B.   Saran …………………………………………………………………………………    28

 

DAFTAR PUSTAKA

ii

vii

 

viii

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Karya Tulis Ilmiah Pengaruh Kecerdasan Emosional (Emotional Question) Terhadap Hasil Belajar Siswa

 

KARYA TULIS ILMIAH

PENGARUH KECERDASAN EMOSIONAL (EMOTIONAL QUESTION) TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Disusun oleh :

Nama  :  BAEKANDI

NIM  :  1001037166

 

 

 

 

 

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PROF. DR. HAMKA

PJJ – UHAMKA

2011


KATA PENGANTAR

 

 

 

Syukur alhamdulillah Penyusun panjatkan kepada Allah SWT atas berkah rahmat dan hidayah-Nya, akhirnya penulis dapat menyelesaikan tugas Karya Tulis Ilmiah ini.

Tugas Karya Tulis Ilmiah ini disusun dalam rangka perolehan evaluasi akademik pada Mata Kuliah di lingkungan PJJ UHAMKA Bogor.

Penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini tidak terlepas dari curahan perhatian, bantuan dan dorongan dari berbagai pihak yang telah ikut berpartisipasi dalam merampungkan kesempurnaan penyelesaian Karya Tulis Ilmiah ini. Oleh karena itu, penyusun menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah berperan. Atas segala bantuan dan partisipasinya, semoga Allah SWT berkenan membalasnya dengan balasan kebaikan yang berlipat-lipat. Amiin…

Penyusun juga menyadari dengan sepenuhya bahwa penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini masih jauh dari sempurna baik dari segi substansi maupun sistematikanya. Oleh karena itu, kritik dan saran yang konstruktif sungguh sangat penyusun nantikan demi evaluasi di masa mendatang.

Akhirnya penyusun berharap, semoga Karya Tulis Ilmiah ini dapat diterima dengan baik dan memberikan manfaat serta dapat dipertanggung jawabkan sebagai salah satu referensi pendidikan di khususnya lingkungan UPJJ UHAMKA Bogor.

 

 

 

Bogor,   Juni 2011

Hormat kami,

 

Penyusun

i

DAFTAR ISI

 

KATA PENGANTAR…………………………………………………………………………………………. i

DAFTAR ISI…………………………………………………………………………………………………. ii

 

BAB I    PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang Masalah………………………………………………………………………. 1
  2. Identifikasi Masalah……………………………………………………………………………. 5
  3. Pembatasan Masalah…………………………………………………………………………. 5
  4. Perumusan Masalah…………………………………………………………………………… 5
  5. Tujuan Penelitian………………………………………………………………………………. 5

 

BAB II KERANGKA TEORITIS

  1. Tinjauan Teori…………………………………………………………………………………… 6
  2. Kerangka Berfikir……………………………………………………………………………… 11

 

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

  1. Tujuan Penelitian…………………………………………………………………………….. 12
  2. Tempat dan Waktu Penelitian……………………………………………………………. 12
  3. Variabel Penelitian……………………………………………………………………………. 12
  4. Metode Penelitian……………………………………………………………………………. 12
  5. Sampel………………………………………………………………………………………….. 12
  6. Instrumen Penelitian………………………………………………………………………… 12

 

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

  1. Deskripsi Data Hasil Penelitian……………………………………………………………. 14
  2. Pengujian Penelitian dan Analisa Data…………………………………………………. 16
  3. Pembahasan Hasil Penelitian……………………………………………………………… 17
  4. Keterbatasan Penelitian…………………………………………………………………….. 18

 

BAB V   KESIMPULAN DAN SARAN

A.    Kesimpulan…………………………………………………………………………………….. 19

B.    Saran…………………………………………………………………………………………….. 19

 

DAFTAR PUSTAKA

ii

ii

BAB I

PENDAHULUAN

  1. A.    Latar Belakang Masalah

Pendidikan merupakan salah satu cara untuk menciptakan manusia menjadi dewasa. Dengan kedewasaan ini akan menjadikan manusia sebagai contoh dan suri tauladan dalam menjalankan kehidupannya sehari-hari dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Dalam pendidikan berlangsung suatu proses pembelajaran. Dalam suatu proses belajar mengajar dikatakan berhasil, apabila siswa memahami dan mengerti apa materi yang disampaikan oleh guru mendapat hasil yang baik. Hasil belajar merupakan tolok ukur kesuksesan peserta didik; dalam mendapatkan keberhasilan yang baik diperlukan faktor internal dan eksternal dari tiap peserta didik. Faktor internal untuk menunjang keberhasilan yaitu kecerdasan, kondisi fisik, bakat, minat dan motivasi belajar siswa, sedangkan faktor eksternal yaitu lingkungan keluarga, lingkungan masyarakat, sarana dan prasarana sekolah.

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan ilmu pengetahuan bisa dimiliki oleh seseorang apabila orang tersebut mempunyai kecerdasan, kondisi fisik, minat, bakat dan motivasi, serta ditunjang faktor lingkungan.

Kecerdasan Gardner yang diterjemahkan oleh Agus Nggermanto bahwa manusia memiliki kecerdasan multi yang dinamakan dengan istilah multiple intelegence sebagai berikut :

  1. Kecerdasan logis-matematis (IQ)
  2. Kecerdasan linguistik-verbal (IQ)
  3. Kecerdasan visual spatial
  4. Kecerdasan emosional (Intra Personal dan Inter Personal) (EQ)
  5. Kecerdasan naturalis
  6. Kecerdasan intuisi
  7. Kecerdasan moral
  8. Kecerdasan eksistensial
  9. Kecerdasan spiritual
  10. Kecerdasan musical
  11. Kecerdasan kinestetik

Sementara menurut Daniel Goleman mengungkapkan bahwa IQ menentukan sukses seseorang sebesar 20%, sedangkan kecerdasan emosi memberikan kontribusi sebesar 80%.

Setiap manusia memiliki tingkat emosi yang berbeda-beda, contohnya anak SD memiliki ketidak stabilan emosinya, jika anak tersebut sudah mampu mengolah emosinya dengan baik, maka akan mendapatkan kesuksesan dalam mencapai hasil belajar.

Sejalan dengan uraian di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa kecerdasan seseorang bisa mencapai hasil yang baik, apabila sudah mampu mengelola emosinya dengan baik sejalan dengan kontribusi emosional kecerdasan sangat tinggi.

Dengan demikian tidak dapat disangkal lagi kecerdasan emosional merupakan perkembangan yang perlu dipupuk dan disalurkan demi menunjang keberhasilan belajar bagi siswa-siswi peserta didik dimasa sekarang dan masa mendatang.

Keadaan tiap anak, baik yang ada dilingkungan keluarga yang mampu, sedang atau yang kurang mampu, kecerdasan itu berbeda-beda tidak terpaku dan terikat dari keadaan sosial dan lingkungan tetapi dari faktor internal dan eksternal anak yang bersangkutan, tetapi hasil belajar bisa dari tingkat kecerdasan emosional.

Namun kenyataan itu masih banyak dijumpai kendala-kendala yang ditimbulkan dari hasil belajar siswa yang tidak seimbang dari keadaan kecerdasan, minat, bakat, motivasi dan keadaan lingkungan sosial, keluarga dan masyarakat yang dihadapi. Akibat dari kurangnya pemupukan dan ketidak tahuan kontribusi kecerdasan emosional menghasilkan perkembangan hasil belajar yang baik. Berdasarkan hasil observasi dan pengamatan secara umum penulis dapatkan bahwa hasil belajar siswa ditimbulkan dari faktor pengaruh internal siswa dan eksternal siswa, yaitu sebagai berikut :

  1. Faktor pengaruh internal siswa adalah minat, bakat, motivasi belajar dan kecerdasan emosi siswa; juga tidak kalah pentingnya adalah kondisi fisik siswa yang bersangkutan.
  2. Faktor eksternal adalah keadaan sosial ekonomi orang tua, lingkungan, keluarga, sarana dan prasarana sekolah.

Mengacu pada uraian di atas, maka timbul ketertarikan dari penulis untuk melakukan penelitian lebih lanjut dan hasil penelitian itu dikemukakan dalam bentuk karya tulis yang berjudul “Pengaruh Kecerdasan Emosional Terhadap Hasil Belajar Siswa”.

 

  1. B.    Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah, maka identifikasi masalah dalam penelitian ini adalah :

  1. Faktor-faktor apa saja yang memberikan kontribusi terhadap hasil belajar siswa di SDN Bagoang 02 Kec. Jasinga Kab. Bogor.
  2. Apakah ada hubungan antara kecerdasan emosional dengan hasil belajar siswa di SDN Bagoang 02 Kecamatan Jasinga Kabupaten Bogor?
  3. Usaha-usaha apa saja supaya hasil belajar siswa SDN Bagoang 02 Kecamatan Jasinga Kabupaten Bogor meningkat?

 

  1. C.    Pembatasan Masalah

Mengingat luasnya pemasalahan yang akan diteliti dan keterbatasan kemampuan yang penulis miliki juga untuk mempermudah kajian teoritisnya, maka penulis batasi pada hal-hal sebagai berikut :

  1. Kecerdasan emosional di SDN Bagoang 02 Kecamatan Jasinga Kabupaten Bogor?
  2. Hasil belajar siswa di SDN Bagoang 02 Kecamatan Jasinga Kabupaten Bogor?

 

  1. D.   Perumusan Masalah

Agar penelitian ini mempunyai arah yang jelas dan mudah diukur hasilnya, dan berdasarkan identifikasi masalah, maka masalah dalam penelitian inidapat dirumuskan menjadi: “Apakah ada hubungan antara kecerdasan emosional dengan hasil belajar siswa di SDN Bagoang 02 Kecamatan Jasinga Kabupaten Bogor”.

 

  1. E.    Tujuan Penelitian

Tujuan yang hendak dicapai adalah sebagai berikut :

  1. Sebagai salah sau syarat untuk memperoleh nilai akademik pada penyusunan tugas mata kuliah di PJJ UHAMKA.
  2. Sebagai sebagai tinjauan edukatif pada tema pembahasan khususnya di SDN Bagoang 02.
  3. Sebagai sarana praktis tentang penelitian karya ilmiah.

 


BAB II

KERANGKA TEORITIS

  1. A.    Tinjauan Teori
    1. 1.    Kecerdasan Emosional (Emotional Question)

Secara sederhana diungkapkan bahwa IQ merupakan suksesnya seseorang hanya sebesar 20%, sedangkan kecerdasan emosi memberikan kontribusi sebesar 80%. Kecerdasan emosi dapat dikembangkan lebih baik, lebih matang dan lebih prospek apabila sudah dapat mengendalikannya, sebab kecerdasan emosi dapat diterapkan secara luas untuk bekerja, belajar, mengajar, mengasuh anak, persahabatan dan berumah tangga.

Menurut Daniel Goleman yang diterjemahkan oleh Agus Nggermanto, yaitu:

“Kecerdasan emosional adalah kemampuan untuk menggali perasaan kita sendiri dan perasaan orang lain, kemampuan memotivasi sendiri dan kemampuan mengolah emosi dengan baik pada diri sendiri dan dalam hubungan dengan orang lain.”

Kecerdasan emosi mencakup kemampuan yang berbeda tetapi saling melengkapi dengan kecerdasan akademik. Banyak orang cerdas dalam arti terpelajar, tetapi tidak mempunyai kecerdasan emosi, ternyata kemampuannya rendah tidak bisa membantu dalam keterampilan kecerdasan emosi.

Kecerdasan emosi menuntut untuk belajar mengakui dan menghargai perasaan pada diri sendiri dan orang lain untuk menanggapi dengan tepat, menerapkan dengan efektif. Menurut Cooper dan Ayman Sawaf, yaitu :

“Kecerdasan emosional adalah kemampuan merasakan, memahami dan secara efektif menerapkan daya kepekaan emosi sebagai sumber energi informasi, koneksi dan pengaruh yang manusiawi.”

Kecerdasan emosional bukanlah muncul dari pemikiran yang jernih tetapi dari pekerjaan hati manusia. Orang yang mampu mengatasi komplik, kesenjangan yang perlu dijembatani atau diisi, merupakan hubungan tersembunyi yang menjanjikan peluang dan menempuh interaksi gelap. Misterius yang menurut pertimbangan paling biasa membuahkan emas secara lebih siap, lebih cekatan dan lebih cepat dibandingkan orang lain adalah orang yang memiliki EQ tinggi.

Menurut Hower dan Herald yang diterjemahkan oleh Zainudin Mu’tadin, kecerdasan emosional adalah:

“Komponen yang membuat seseorang menjadi pintar menggunakan emosi. Lebih lanjut dikatakannya bahwa emosi manusia berada diwilayah dari perasaan lubuk hati, nurani, naluri yang tersembunyi dan sensasi emosi yang apabila diakui dan dihormati kecerdasan emosi menyediakan pemahaman yang lebih mendalam dan lebih utuh tentang diri sendiri dan orang lain.”

Bertitik tolak dari acuan di atas maka emosi manusia adalah wilayah dari perasaan lubuk hati, naluri tersembunyi dan sensasi emosi. Apabila dipercaya dan dihormati, kecerdasan emosional menyediakan pemahaman yang lebih mendalam dan lebih utuh tentang diri sendiri dan orang lain disekitar kita. Kecerdasan emosional bukan merupakan lawan dari kecerdasan intelektual yang biasa dikenal dengan IQ, nama keduanya tergabung secara dinamis. Pada kenyataannya perlu diakui bahwa kecerdasan emosional memiliki peran yang sangat penting untuk mencapai kecerdasan di sekolah, di tempat kerja dan dalam berkomunikasi di lingkungan masyarakat.

Kecerdasan emosional bukan hanya memunculkan pemikiran intelek yang jernih tetapi juga pekerjaan hati manusia lebih berpokus pada kemampuan menggunakan emosi secara efektif dalam mencapai tujuan.

Menurut Djadja Suparman kecerdasan emosional adalah :

“Mengendalikan dorongan hati dan tidak melebih-lebihkan, mengatur suasana hati dan menjaga agar beban stres tidak merendahkan kemampuan berpikir, bersimpati dan berdo’a.”

Berdasarkan paparan di atas, maka kecerdasan emosional merupakan keperluan landasan kecerdasan, yang pada hakekatnya kecerdasan emosional adalah kemampuan mengolah dan menggunakan emosi dengan baik.

 

  1. 2.    Hasil Belajar Siswa

Belajar merupakan suatu proses perubahan tingkah laku dimana dalam proses tingkah laku dimana dalam proses kegiatan belajar mengajar akan menimbulkan suatu perubahan yang disebut dengan hasil belajar. Pada dasarnya dalam proses belajar mengajar siswa mengharapkan mendapat prestasi baik  sebagai suatu penghargaan dari apa yang telah ia kerjakan selama menempuh proses kegiatan belajar mengajar, untuk dapat mengetahui apakah prestasinya baik, siswa dapat melihatnya pada hasil belajar. Menurut Waluyo hasil belajar adalah :

“Hasil prestasi yang dicapai siswa setelah melakukan proses belajar mengajar.”

Setelah mengikuti proses kegiatan belajar mengajar siswa dapat merealisasikannya dalam bentuk suatu tindakan yang mencerminkan terciptanya suatu tujuan. Adapun hasil belajar menurut Sudianto adalah:

“Tingkat penguasaan yang dicapai oleh siswa dalam mengikuti proses KBM sesuai dengan tujuan pendidikan yang ditetapkan.”

Setelah melalui proses belajar seorang siswa akan mengalami suatu perubahan. Perubahan yang terjadi sebagai hasil dari belajar nantinya akan mempengaruhi pola belajar siswa dalam berbuat dan bertindak. Dari belajar akan menghasilkan adanya suatu kemajuan. Perubahan ini merupakan hasil dari pengalaman belajar. Sebagaimana dikemukakan Nana Sudjana tentang hasil belajar adalah:

“Kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajar.”

Segala perubahan dari seseorang baik perubahan yang menyangkut segi intelektual, maupun sikap merupakan indikator, bahwa dalam diri seseorang telah mengalami proses belajar. Proses itu tidak terjadi dengan sendirinya melainkan memerlukan rangsangan-rangsangan dari luar yang dapat membangkitkan proses tersebut.

Sebagaimana pendapat Robert. M Gague yang dikutif oleh Nasution, mengemukakan bahwa:

“Ada dua macam variabel yang mempengaruhi hal belajar, yakni yang ada pada diri pelajar (variabel internal) dan yang ada di luar diri (variabel eksternal).”

Dengan demikian proses belajar berlangsung dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor yang sekaligus ikut menentukan berhasil atau tidak dan optimal atau tidak dalam pencapaian belajar itu sendiri. Namun secara garis besar dapat digolongkan kedalam dua bentuk faktor internal dan eksternal.

  1. Faktor internal adalah faktor-faktor yang ada dalam diri manusia itu sendiri, seperti faktor kematangan/pertumbuhan, kecerdasan/intelegasi, motivasi dan faktor pribadi.
    1. Faktor kematangan/pertumbuhan:

Berdasarkan kematangan/pertumbuhan fisik, seorang anak yang berusia lima bulan umpamanya, belum saatnya untuk dapat berjalan, namun dipaksa untuk belajar berjalan, maka tetap saja ia tidak akan sanggup melakukannya. Demikian pula tidak akan mungkin berhasil mengajarkan ilmu filsafat kepada anak-anak yang masih duduk dibangku Sekolah Dasar (SD). Ketidak berhasilan tersebut, dikarenakan pertumbuhan atau kematangan fisik dan perkembangannya belum memungkinkan untuk menerima pelajaran tersebut.

Oleh karena itu dalam mengajarkan sesuatu hal harus disesuaikan dengan tahap pertumbuhan/kematangan fisik dan psikologis seorang anak.

  1. Faktor intelegensi/kecerdasan:

Faktor intelegensi merupakan faktor yang sangat besar pengaruhnya terhadap proses dan keberhasilan belajar anak. Apabila pembawaan intelegasi anak itu memang rendah, maka anak tersebut akan mengalami kesukaran dalam melakukan proses dan pencapaian hasil belajar yang baik.

  1. Faktor motivasi:

Motivasi merupakan dorongan sementara yang terjadi di dalam diri seseorang yang memungkinkan ia melakukan sesuatu. Motivasi merupakan pemicu untuk melakukan aktivitas selanjutnya. Oleh karena itu dalam menyajikan bahan pelajaran harus mampu manarik dan mendorong motivasi siswa untuk belajar dengan baik. Sebaliknya, bahan pelajaran yang disajikan dengan kurang menarik dan tidak memberikan motivasi kepada siswa, maka ia akan cepat menjadi bosan belajar.

  1. Faktor pribadi (pembawaan/bakat):

Faktor ini turut pula dalam mempengaruhi proses dan keberhasilan belajar. Pembawaan atau bakat merupakan suatu potensi yang dibawa sejak lahir, karena itu setiap manusia/anak memiliki pembawaan/bakatnya masing-masing. Sifat-sifat dasar sebagai pembawaan tersebut akan ikut serta dalam memberikan pengaruh terhadap proses belajar dan hasilnya; seperti anak yang berwatak tekun, ulet, dan rajin, tentunya akan berbeda proses belajarnya dengan anak yang pemalas dan mudah menyerah.

  1. Faktor eksternal adalah faktor-faktor yang ada diluar diri anak, dan hal ini cukup banyak macamnya.
    1. Faktor yang datang dari sekolah:

Faktor ini meliputi interaksi guru dengan murid, cara guru menyajikan pelajaran, hubungan antar murid, standar pelajaran di atas ukuran, media pendidikan, kurikulum, keadaan gedung, waktu sekolah, pelaksanaan disiplin, metode belajar, dan tugas/pekerjaan rumah.

  1. Faktor yang datang dari masyarakat

Faktor ini meliputi massmedia, teman bergaul, kegiatan-kegiatan lain di luar sekolah, dan cara hidup di lingkungan.

  1. Faktor yang datang dari keluarga:

Faktor ini meliputi cara mendidik dari orang tua, suasana keluarga, pengertian dan dorongan orang tua, keadaan sosial ekonomi keluarga, dan latar belakang kebudayaan/kebiasaan keluarga.

 

Adapun pengertian hasil belajar menurut Soedijanto yakni, “Hasil belajar ialah tingkat penugasan yang dicapai oleh pelajar dalam mengikuti proses belajar mengajar sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan. Berkenaan dengan hasil belajar ini Raka Joni mengatakan, “Hasil belajar dapat digunakan untuk menarik kesimpulan tentang prestasi akademik, sikap, minat, dan penyesuaian sosial.” Dari pernyataan itu dapat ditarik kesimpulan bahwa kemajuan dan kemunduran hasil belajar siswa dapat ditentukan oleh beberapa faktor, baik yang terdapat dalam diri siswa itu sendiri, maupun yang terdapat di luar diri siswa. Jika semua faktor yang ada dapat mendukung proses belajar, misalnya: sikap, minat, kemampuan ekonomi, sarana belajar yang memadai, siswa akan dapat prestasi atau nilai yang tinggi, demikian juga sebaliknya.

Mempelajari keterangan tersebut, maka jelas sekali bahwa dalam proses belajar memerlukan cara yang berbeda dalam rangka pencapaian tujuan tetapi unsur-unsur tersebut saling berkaitan antara satu dengan yang lainnya.

Berdasarkan kajian beberapa teori yang dikemukakan di atas. Jadi yang dimaksud belajar dalam penelitian ini adalah tingkat penguasaan yang dicapai oleh siswa dalam mengikuti pembelajaran sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai baik itu mengenai prestasi akademik, sikap, minat dan penyesuaian sosial.

 

  1. B.    Kerangka Berfikir

Hasil belajar yang dimaksud adalah suatu prestasi yang hendak diraih oleh setiap siswa di sekolah. Untuk meraih prestasi tersebut tidaklah mudah, manusia membutuhkan kecerdasan. Sebenarnya dalam diri manusia telah memiliki kecerdasan multi antara lain kecerdasan logis-matematis, kecerdasan linguistis-verbal, kecerdasan-visual-spatial, kecerdasan emosional (intra personal dan interpersonal), kecerdasan naturalis , intusisi, kecerdasan moral, kecerdasan eksistensi, kecerdasan spiritual, kecerdasan musical, dan kecerdasan kinestetik.

Akan tetapi pada kenyataannya kecerdasan tersebut oleh manusia jarang dipahami karena ketidak tahuan dan akibatnya manusia sukar untuk mencapai kesuksesan, jika seseorang ingin sukses dalam meraih hasil belajar yang maksimal maka ia harus memiliki IQ dan EQ yang baik. Dengan memiliki kecerdasan emosional yang baik maka seseorang akan mampu mengelola emosi menjadi kekuatan untuk mencapai prestasi terbaik dan juga mampu memotivasi diri sendiri.

Berdasarkan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa jika seseorang memiliki kecerdasan emosional yang baik, ia akan meraih hasil belajar yang maksimal. Maka diduga kecerdasan emosional mempunyai hubungan dengan hasil belajar siswa.

 


BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

  1. A.    Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan memperoleh data secara empiris tentang hubungan antara kecerdasan emosional dengan hasil belajar siswa di SDN Bagoang 02 Kecamatan Jasinga Kabupaten Bogor.

 

  1. B.    Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Sekolah Dasar Negeri Bagoang 02 Kecamatan Jasinga Kabupaten Bogor. Adapun waktu penelitian yaitu dilaksanakan terhitung mulai bulan Mei sampai dengan bulan Juni 2011, selama 2 Minggu.

 

  1. C.    Variabel Penelitian

Dalam hal ini penelitian dilakukan sesuai dengan judul yang diangkat dan terdiri dari dua variabel penelitian, yaitu :

  1. Variabel bebas (indevenden variabel) X, yaitu kecerdasan emosional.
  2. Variabel terikat (devenden variabel) Y, yaitu hasil belajar siswa.

 

  1. D.   Metode Penelitian

Berdasarkan variabel penelitian, permasalahan dan teknik pengumpulan data atau instrumen penelitian, maka metode penelitian yang digunakan adalah metode studi korelasi yang merupakan bagian dari metode deskriptip kognitip.

 

  1. E.    Sampel

Adapun sampel dalam penelitian ini adalah siswa siswi kelas VI
SDN Bagoang 02 sebanyak 40 orang.

 

  1. F.    Instrumen Penelitian

Instrumen dalam penelitian yang digunakan untuk mengumpulkan data tentang hubungan antara kecerdasan emosional sebagai variabel bebas dengan menggunakan angket berupa sekala perilaku 20 pernyataan yang alternatif jawabannya terdiri dari selalu (D, sering (Ss), kadang-kadang (KD), pernah (P) dan tidak pernah (TP). Adapun skor nilai untuk S = 5, SS = 4, KD = 3, P = 2, dan TP = 1, skor nilai tersebut untuk jawaban positif, sedangkan untuk skor nilai yang negatif diberi skor sebaliknya.

Instrumen penelitian yang digunakan untuk mengumpulkan data tentang hasil belajar siswa sebagai variabel terikat dengan menggunakan test pilihan ganda (test prilaku ganda) sebanyak 20 pertanyaan dengan alternatif jawaban terdiri dari pilihan option a, b, c, dan d, sedangkan skor nilai untuk jawaban benar diberi nilai 1 (satu) dan yang salah 0 (nol) untuk pernyataan positif, bagi skor nilai pernyataan negatif diberi nilai sebaliknya.

 


BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

  1. A.    Deskripsi Data Hasil Penelitian
  1. Hubungan antara kecerdasan emosional

Untuk melihat hubungan antara kecerdasan emosional (emotional question) dengan hasil belajar siswa maka diberlakukan penilaian variabel y (untuk pengukuran hasil belajar siswa/intelegensi) dan variabel x (untuk pengukuran skala emosional). Dari hasil penelitian berdasarkan instrument penilaian, maka diperoleh data sebagai berikut :

Tabel 1

Perolehan Nilai Siswa Untuk Variabel Y

No.

Rentang Nilai

Tally

F

%

1

2

3

4

5

6

< 50

50 – 59

60 – 69

70 – 79

80 – 89

90 – 100

I

IIII

IIII II

IIII IIII I

IIII III

IIII IIII

1

4

7

11

8

9

2,5

10

17,5

27,5

20

22,5

Jumlah

40

40

100

Sumber: Hasil pengolahan data uji coba

 

Berdasarkan data pada tabel di atas, jika dibandingkan dengan rata-rata menunjukan bahwa skor variabel Y di SDN Bagoang 02 Kecamatan Jasinga Kabupaten Bogor, yang berada di bawah rata-rata sebanyak 12 orang responden atau 30%, yang berada sama dengan rata-rata sebanyak 11 orang responden atau 27,5%. Sedangkan yang berada di atas bilai rata-rata sebanyak 17 orang responden atau 42,5%.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa upaya pembinaan warga negara yang baik di SDN Bagoang 02 Kecamatan Jasinga Kabupaten Bogor termasuk kategori tinggi.

Selanjutnya untuk grafik skor variabel Y, dapat dilihat pada gambar 1 berikut:

 


Gambar 1

Grafik Perolehan Nilai Siswa Untuk Variabel Y

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. Hasil belajar siswa

Penelitian tentang variabel x (hasil belajar siswa/intelegensi), dalam hal ini digunakan mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan, diperoleh data sebagai berikut :

Tabel 2

Distribusi Frekuensi Skor Variabel X

No.

Kelas Interval

Tally

F

%

1

2

3

4

5

10 – 11

12 – 13

14 – 15

16 – 17

18 – 19

IIII

IIII IIII

IIII IIII IIII

IIII III

IIII

4

9

15

8

4

10

22,5

37,5

20

10

Jumlah

40

40

100

Sumber: Hasil pengolahan data uji validitas

 

Berdasarkan data pada tabel 2 di atas, jika dibandingkan dengan nilai harga rata-rata menunjukan bahwa skor Hasil Belajar Siswa di                   SDN Bagoang 02 Kecamatan Jasinga Kabupaten Bogor, yang berada di bawah nilai rata-rata sebanyak 13 orang responden atau 32,5%, dan yang berada sama dengan nilai rata-rata sebanyak 15 orang responden atau 37,5%. Sedangkan yang berada di atas rata-rata sebanyak 12 orang responden atau 30%.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa hasil belajar di SDN Bagoang 02 Kecamatan Jasinga Kabupaten Bogor termasuk kategori sedang.

Selanjutnya untuk grafik variabel x dapat dilihat pada gambar 2 berikut:

Gambar 2

Grafik Perolehan Nilai Untuk Variabel X

 

  1. B.    Pengujian Penelitian dan Analisa Data

Langkah-langkah selanjutnya setelah dilakukan perhitungan maka selanjutnya yaitu menganalisa data yang diperoleh. Hal ini bertujuan untuk mengetahui keberadaan data dalam pengujian hipotesis penelitian. Langkah yang ditempuh dalam analisis data ini adalah menghubungkan dua jenis skor dari dua variabel yaitu skor hubungan pemahaman materi Hak Asasi Manusia terhadap upaya pembinaan warga negara yang baik.

Data korelasi data yang dilakukan tersebut diperoleh kesimpulan bahwa terdapat hubungan antara variabel X (kecerdasan emosional) dengan variabel Y (hasil belajar siswa) di SDN Bagoang 02 Kecamatan Jasinga Kabupaten Bogor, dengan kesimpulan sebagai berikut :

 

  1. Terdapat hubungan yang signifikan antara hubungan antara kecerdasan emosional dengan hasil belajar siswa di SDN Bagoang 02 Kecamatan Jasinga Kabupaten Bogor.
  2. Nilai signifikasi hubungan antara kecerdasan emosional dengan hasil belajar siswa di SDN Bagoang 02 Kecamatan Jasinga Kabupaten Bogor sebesar 15,21%. Hal ini diperoleh dari perhitungan pertemuan dua titik antara variabel x dan y yang digambarkan sebagai berikut :

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. C.    Pembahasan Hasil Penelitian

Berdasarkan hasil penelitian di atas, bahwa hipotesis kerja (H1) diterima, hal ini tidak cukup beralasan karena upaya pembinaan warga yang baik dapat dipengaruhi oleh banyak faktor.

Dalam penelitian ini penulis mengambil fokus apakah ada hubungan antara kecerdasan emosional dengan hasil belajar siswa yang baik. Setelah diadakan  penelitian ternyata kedua variabel tersebut ada pengaruh positif yang signifikan.

Penelitian di atas berada pada satu fenomena tempat yang sampel dan populasinya masih kurang luas bila dibandingkan dengan banyaknya faktor yang mempengaruhi hubungan antara kecerdasan emosional dengan hasil belajar siswa.

Hasil penelitian yang diperoleh di SDN Bagoang 02 Kecamatan Jasinga Kabupaten Bogor bisa saja berbeda hasilnya dengan hasil penelitian di tempat lain. Mudah-mudahan hasil penelitian ini dapat menjadi rangsangan dan motivasi yang positif bagi para peneliti selanjutnya yang memberikan perhatian pada upaya pembinaan warga negara yang baik terutama siswa-siswi SD dan atau MI juga yang sederajat yang merupakan putra-putri generasi penerus tunas harapan bangsa, yang kelak bisa meneruskan pembangunan bangsa dan negaranya juga agamanya terutama meneruskan perjuangan dan cita-cita yang terkandung di dalam UUD 1945, sehingga dapat menjadi perhatian di dunia pendidikan.

 

  1. D.   Keterbatasan Penelitian

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilaksanakan di SDN Bagoang 02 Kecamatan Jasinga Kabupaten Bogor, tentang hubungan antara kecerdasan emosional dengan hasil belajar siswa di SDN Bagoang 02 Kecamatan Jasinga Kabupaten Bogor dengan menggunakan korelasi “r” product moment dapat disimpulkan bahwa hubungan yang ada dalam kategori rendah yaitu 15,21%.

Namun dari hasil penelitian ini penulis menyadari bahwa penelitian ini tidak sepenuhnya pada kebenaran yang mutlak, penulis menyadari masih banyak terdapat kekurangan dan kelemahan disana sini diantaranya:

  1. Terbatasnya kemampuan dari penulis untuk dapat meneliti secara obyektif, terukur dan mendalam.
  2. Terbatasnya dana dan potensi dalam proses penelitian ini.
  3. Terbatasnya tenaga dan waktu dalam melakukan penelitian secara terukur, mendalam dan rinci.

Jadi hasil penelitian ini hanya menggambarkan atau berlaku di                         SDN Bagoang 02 Kecamatan Jasinga Kabupaten Bogor.


BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

 

A.    Kesimpulan

Berdasarkan uji persyaratan analisis data dan uji hipotesis, maka sampailah pada suatu akhir dalam penelitian ini, dalam kegiatan ini untuk menarik kesimpulan dari penelitian yang telah dilakukan.

Adapun kesimpulan yang dapat diambil adalah sebagai berikut :

  1. Terdapat hubungan antara kecerdasan emosional dengan hasil belajar siswa di Sekolah Dasar Negeri Bagoang 02 Kecamatan Jasinga Kabupaten Bogor.
  2. Terdapat nilai signifikasi variabel X (hubungan antara kecerdasan emosional) terhadap variabel Y (hasil belajar siswa di Sekolah Dasar Negeri Bagoang 02 Kecamatan Jasinga Kabupaten Bogor) Hasil belajar siswa sebesar 15,21 %. Hal ini didasarkan dari hasil perhitungan yang diperoleh sebesar 15,21 %. Hal Ini berarti masih ada 84,79 % adalah hubungan faktor-faktor lain yang mempengaruhi hasil belajar siswa. Faktor-faktor lain itu adalah faktor lingkungan dan faktor bimbingan orang tua.  Contoh faktor lingkungan adalah contoh-contoh adat istiadat di masyarakat yang baik bisa baik seperti cara berbincang yang sopan, cara bergaul yang ramah dan cara bertingkah laku yang baik, sedangkan faktor bimbingan orang tua akan lebih berpengaruh terutama bimbingan orang tua yang datang dari keluarga masing-masing.
  3. Jika diperoleh nilai signifikasi hubungan antara kecerdasan emosional dengan hasil belajar siswa yang rendah, maka hal itu berarti masih ada kontribusi hubungan faktor lain. Hal ini perlu mendapatkan perhatian dari pihak internal dan eksternal. Pihak internal diantaranya sekolah terutama guru mata pelajaran, sedangkan pihak eksternal diantaranya lingkungan keluarga dan masyarakat supaya terjadi hasil belajar siswa dalam hubungan antara kecerdasan emosional.

 

B.    Saran-saran

Berangkat dari temuan yang berkaitan dari hasil penelitian, maka dengan ketulusan jiwa dan kerendahan hati, penulis ingin menyampaikan beberapa saran kepada pihak yang terkait, terutama kepada:

  1.  Dalam proses kegiatan belajar mengajar lebih mengarahkan pada hasil belajar siswa dan menerapkannya guna terwujudnya hasil belajar siswa yang baik.
  2. Para orang tua, anggota keluarga, serta lingkungan masyarakat agar memberikan motivasi, penerapan dan pemahaman positif agar anak-anak sekolah lebih memahami hubungan kecerdasan emosional dalam menjalankan kegiatan aktivitas hidupnya semenjak dini..
  3. Bagi para siswa dan siswi yang berada di SDN Bagoang 02 Kecamatan Jasinga Kabupaten Bogor pahamilah, laksanakan dan kembangkanlah bakat dan minat juga kreasimu dalam hubungan antara kecerdasan emosional supaya kelak menjadi pondasi dalam kehidupan di masa yang akan datang nanti.

 

 

 

 

 

 

 


DAFTAR PUSTAKA

 

Abdul, Azis, Wahab, Dr. MA. Materi Pokok PPDG 2530/ Modul 1-9 Pendidikan Pancasila 2, UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PROF. DR. HAMKA, 1997

Anonim, GBPP Tahun 1999. Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan. Jakarta: PT Sarana Pancakarya, 2000.

_________, Undang-Undang No. 39 Tahun 1999. Pendidikan Kewarganegaraan. Bandung: PT Rosda Karya, 2000

_________, Undang-Undang No. 39 Tahun 1999. Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan. Jakarta: Yudhistira, 2002

_________, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Jakarta: 2005

A. Mangun, Harjuna, Prof. MA. Dimensi Manusia dalam Pembangunan. Jakarta: LP3ES, 1996

A. Rahmat, Drs. Tata Negara Kurikulum SMU. Bandung: Ganesha Exact, 1994

Budiarjo, Miriam, Prof. MA. Manifestasi Hak Asasi Manusia. Jakarta: 1998

Iskandar, Enceng, Drs. M.Pd. Mabir PPKn. Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2000

Kansil, C.S.T., Drs. SH. Pengantar Ilmu Hukum dan Tata Hukum Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka, 2000

Naning, Randlom, SH. Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan. Bandung: PT Rosdakarya, 1983

Pandu, Yuda (ed) Undang-Undang No. 39 Tahun 1999, tentang Hak Asasi Manusia. Jakarta: Indonesia Legal Center Publishing, 2004

Rationingsih, Neny. Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan 1. Jakarta: Yudhistira, 1999

_________, Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan 2. Jakarta: Yudhistira, 1999

Salahudin, Hamidi, Drs. Hak Asasi Manusia dalam Persfektif Islam. Jakarta: Amisco, 2000

Sri Rahayu Pudjiastuti, Metode Penelitian Pendidikan, Jakarta: STKIP Kusuma Negara Jakarta, 2004.

Suharsini Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, Jakarta:                          PT. Rineka Cipta, 1998.

 


KATA PENGANTAR

 

 

 

Syukur alhamdulillah Penyusun panjatkan kepada Allah SWT atas berkah rahmat dan hidayah-Nya, akhirnya penulis dapat menyelesaikan tugas Karya Tulis Ilmiah ini.

Tugas Karya Tulis Ilmiah ini disusun dalam rangka perolehan evaluasi akademik pada Mata Kuliah di lingkungan PJJ UHAMKA Bogor.

Penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini tidak terlepas dari curahan perhatian, bantuan dan dorongan dari berbagai pihak yang telah ikut berpartisipasi dalam merampungkan kesempurnaan penyelesaian Karya Tulis Ilmiah ini. Oleh karena itu, penyusun menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah berperan. Atas segala bantuan dan partisipasinya, semoga Allah SWT berkenan membalasnya dengan balasan kebaikan yang berlipat-lipat. Amiin…

Penyusun juga menyadari dengan sepenuhya bahwa penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini masih jauh dari sempurna baik dari segi substansi maupun sistematikanya. Oleh karena itu, kritik dan saran yang konstruktif sungguh sangat penyusun nantikan demi evaluasi di masa mendatang.

Akhirnya penyusun berharap, semoga Karya Tulis Ilmiah ini dapat diterima dengan baik dan memberikan manfaat serta dapat dipertanggung jawabkan sebagai salah satu referensi pendidikan di khususnya lingkungan UPJJ UHAMKA Bogor.

 

 

 

Bogor,   Juni 2011

Hormat kami,

 

Penyusun

i

DAFTAR ISI

 

KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI

 

BAB I    PENDAHULUAN……………………………………………………………………………………

  1. Latar Belakang Masalah…………………………………………………………………………
  2. Identifikasi Masalah………………………………………………………………………………
  3. Pembatasan Masalah……………………………………………………………………………
  4. Perumusan Masalah……………………………………………………………………………..
  5. Kegunaan Penelitian…………………………………………………………………………….

 

BAB II KERANGKA TEORITIS

  1. Tinjauan Teori……………………………………………………………………………………..
  2. Kerangka Berfikir………………………………………………………………………………….

 

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

  1. Tujuan Penelitian…………………………………………………………………………………
  2. Tempat dan Waktu Penelitian………………………………………………………………..
  3. Variabel Penelitian………………………………………………………………………………..
  4. Metode Penelitian………………………………………………………………………………..
  5. Sampel………………………………………………………………………………………………
  6. Instrumen Penelitian…………………………………………………………………………….

 

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

  1. Deskripsi Data Hasil Penelitian………………………………………………………………..
  2. Pengujian Penelitian dan Analisa Data……………………………………………………..
  3. Pembahasan Hasil Penelitian………………………………………………………………….
  4. Keterbatasan Penelitian…………………………………………………………………………

 

BAB V   KESIMPULAN DAN SARAN

C.    Kesimpulan…………………………………………………………………………………………

D.   Saran…………………………………………………………………………………………………

 

DAFTAR PUSTAKA

ii

ii

DAFTAR PUSTAKA

 

 

Djam’an Saturi, dkk., Buku Materi Pokok MKDK4005/2SKS/Modul 1-6 Edisi 1, Profesi Keguruan, UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PROF. DR. HAMKA, Jakarta, 2009.

 


KISI-KISI INSTRUMEN PENELITIAN

(HUBUNGAN ANTARA KECERDASAN EMOSIONAL)

VARIABEL X

 

 

No.

Indikator

Pernyataan

Jumlah

Positif

Negatif

1

 

Kecerdasan Emosional

 

1,  2,  3,  4

5

5

2

 

Ekpresi Emosi

 

6,  7,  8,  9

10

5

3

 

Kesadaran Emosi Terhadap Orang Lain

 

11, 12, 13, 14

15

5

4

Kreativitas

17, 18, 19, 20

16

5

 

 

Jumlah

 

 

16

 

 

4

 

 

20

 

 


ANGKET SKALA PRILAKU

 

 

  1. A.    Identitas Responden
  1. Nama                           :    ……………………………………..
  2. Usia/Umur                   :    ………………… Tahun
  3. Jenis Kelamin               :    Laki-laki/Perempuan*)
  4. Kelas                            :    ……………………………………..
  5. Agama                         :    ……………………………………..

 

  1. B.    Petunjuk Pengisian
  1. Bacalah pernyataan ini dengan teliti!
  2. Tiap pernyataan terdiri dari 5 pilihan jawaban untuk variabel X, yaitu :

 

No.

Pilihan Jawaban

Skoring

1

2

3

4

5

 

Selalu

Sering

Kadang-kadang

Pernah

Tidak pernah

 

(SL)

(SS)

(KD)

(P)

(TP)

 

5

4

3

2

1

 

  1. Anda diminta untuk memberikan tanda check list (ü) pada kolom pernyataan yang telah disediakan dan jawablah sesuai dengan pendapat anda secara benar dan jujur.

 

  1. Setelah menjawab dimohon kembalikan dan atas bantuannya kami ucapkan terima kasih.


INSTRUMEN KECERDASAN EMOSIONAL

VARIABEL X

 

Petunjuk Pengisian

  1. Tulislah nama dan kelas anda
  2. Bacalah dengan teliti setiap pernyataan sebelum anda jawab!
  3. Pilihlah jawaban yang paling sesuai dengan pendapat anda berilah tanda chek list (ü) pada tempat yang telah disediakan.
  4. Jawablah setiap pernyataan dan jangan sampai terlewat.

 

No.

Pernyataan

SL

SS

KD

P

TP

1.

Saya dapat menyebutkan perasaan saya          

2.

Saya telah belajar banyak tentang diri sendiri dengan mendengarkan perasaan saya.          

3.

Saya sadar tentang perasaan saya hampir sepanjang waktu.          

4

Saya memperhatikan keadaan fisik saya untuk memahami perasaan-perasaan saya.          

5.

Teman dekat saya akan mengatakan bahwa saya mengungkapkan penghargaan terhadap mereka.          

6.

Saya berfikir tentang perasaan orang lain se-belum mengungkapkan pandangan saya.          

7.

Saya dapat dengan mudah mengabaikan gangguan-gangguan apabila saya perlu berkon-sentrasi.          

8.

Saya menyelesaikan hampir semua yang saya alami.          

9.

Saya tahu cara mengatakan “tidak” ketika saya harus demikian          

10.

Saya berkhayal tentang masa depan untuk memudahkan membayangkan kemana tujuan saya.          

11.

Saya dapat pulih dengan cepat sesudah merasa kecewa.          

12.

Saya dapat memperoleh yang saya butuhkan jika tekad saya sudah bulat.          

13.

Halangan atau masalah dalam hidup saya telah menghasilkan perubahan-perubahan tak terduga ke arah yang lebih baik.          

14.

Saya mudah menunggu dengan sabar bila harus demikian.          

15.

Saya bisa sedih bila kehilangan sesuatu yang pentng bagi saya.          

16.

Saya mempunyai kemampuan mendapatkan yang saya inginkan.          

17.

Saya merasa dapat mengendalikan hidup saya.          

18.

Saya bersedia mengakui kesalahan yang telah saya perbuat.          

19.

Kalau tidak bersemangat lagi dengan sekolah, saya akan berhenti sekolah.          

20.

Saya tidak pernah berbohong.          

 


INSTRUMEN HASIL BELAJAR SISWA

 

Nama : ………………………….

Petunjuk Pengisian

Bacalah setiap pertanyaan dengan seksama sebelum menjawabnya. Berilah tanda silang (X) pada pilihan a, b, c, dan d yang dianggap paling benar. Jawablah setiap pertanyaan dan jangan sampai ada yang terlewatkan.

  1. Mengakui dan meyakini bahwa Tuhan yang menciptakan semesta alam itu memang benar ada arti dari:
    1. Kesadaran adanya kekuatan gaib.
    2. Beribadah sesuai dengan ajaran agama.
    3. Beriman kepada Tuhan YME.
    4. Kesetiaan terhadap perintah Tuhan.
    5. Bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, artinya adalah:
      1. Mengakui dengan sungguh-sungguh adanya Tuhan.
      2. Meyakini semua ajaran Tuhan Yang Maha Esa.
      3. Menyadari segala nikmat dan ciptaan Tuhan Yang Maha Esa
      4. Mentaati perintah Tuhan Yang Maha Esa dan menjauhi larangan-Nya.
      5. Salah satu ciri orang yang bertakwa terhadap tuhan Yang Maha Esa adalah:
        1. Selalu pasrah menghadapi cobaan dalam hidup.
        2. Taat beribadah berdasarkan ajaran agamanya.
        3. Selalu berbuat baik agar dihormati orang lain.
        4. Mensyukuri segala nikmat dengan cara berdo’a.
        5. Contoh perbuatan yang dilandasi sikap iman dan takwa di lingkungan keluarga ialah:
          1. Bekerja bakti setiap hari Minggu.
          2. Berdo’a sebelum dan sesudah melakukan pekerjaan.
          3. Pulang sekolah tepat pada waktunya.
          4. Mau menolong Ibu jika diminta olehnya.
        6. Manfaat beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa bagi diri sendiri, antara lain adalah:
          1. Mewujudkan kerukunan antar umat beragama.
          2. Membentuk pribadi yang jujur dan baik.
          3. Menciptakan masyarakat adil dan makmur.
          4. Meningkatkan persatuan dan kesatuan.
        7. Sebagai bangsa yang cinta terhadap tanah air dan bangsa, terhadap unsur-unsur yang dapat merusak persatuan dan kesatuan bangsa, semestinya bersikap:
          1. Menunggu instruksi pemerintah pusat.
          2. Selalu tanggap dan waspada.
          3. Mengatasi dan mengerahkan massa.
          4. Membiarkan aparat keamanan mengatasi.
        8. Dalam negara kesatuan Indonesia, ancaman terhadap salah satu wilayah Indonesia akan dipandang sebagai:
          1. Ancaman terhadap wilayah tersebut.
          2. Ancaman terhadap seluruh wilayah Indonesia.
          3. Ancaman bagi masyarakat sekitar.
          4. Ancaman bagi TNI.
        9. Suatu sikap yang dilandasi ketulusan dan keikhlasan untuk kejayaan bangsa dan negaranya adalah makna dari:
          1. Cinta tanah air dan bangsa.
          2. Berkorban demi tanah air dan bangsa.
          3. Membangun bangsa dan negara.
          4. Bangga terhadap tanah air dan bangsa.
        10. Salah satu contoh perilaku sebagai wujud rasa cinta tanah air yang dapat dilakukan siswa di lingkungan sekolah adalah:
          1. Belajar jika mau ulangan.
          2. Tekun dan giat belajar.
          3. Mentaati tata tertib jika ada guru.
          4. Membersihkan kelas jika piket.
        11. Kita pertahankan tetap berdirinya negara kesatuan karena alasan sebagai berikut:
          1. Sejak dulu bangsa kita telah menjadi bangsa yang luas wilayahnya.
          2. Kekayaan Indonesia yang melimpah seluruh wilayah.
          3. Kemerdekaan Indonesia diperoleh dengan persatuan dan kesatuan.
          4. Indonesia tidak memiliki orang pintar di daerah-daerah.
        12. Bekerja keras adalah:
          1. Bekerja yang berat-berat.
          2. Bekerja yang kasar-kasar.
          3. Bekerja secara optimal.
          4. Bekerja menjadi kuli bangunan.
        13. Contoh bekerja keras adalah yang dilakukan pelajar ialah:
          1. Belajar jika disuruh orang tua.
          2. Bekerja sesuai dengan perintah guru.
          3. Belajar dengan tekun dan sungguh-sungguh.
          4. Melakukan kerja bakti di lingkungannya.
        14. Diantara yang membedakan orang sukses dengan orang gagal ialah:
          1. Orang sukses suka bekerja keras.
          2. Orang sukses berpangku tangan.
          3. Orang sukses tidak pernah berfikir masa depan.
          4. Orang sukses selalu bersenang-senang.
        15. Kebiasaan hidup dengan gaya glamour, menghambur-hamburkan uang dan menyia-nyiakan waktu adalah ciri orang yang:
          1. Tidak bekerja keras.
          2. Tidak mau hidup miskin.
          3. Tidak mau menghargai orang lain.
          4. Tidak mau hidup sederhana.
        16. Hidup sederhana dan bekerja keras sangat penting bagi:
          1. Pencapaian cita-cita hidup berbangsa dan bernegara.
          2. Pencapaian cita-cita seseorang masyarakat dan bernegara.
          3. Pencapaian kekayaan dan harta yang melimpah.
          4. Pencapaian kepuasan dan kebahagiaan orang lain.
        17. Sikap menghormati perasaan dan menghormati orang lain disebut:
          1. Tepa selira.
          2. Tenggang rasa.
          3. Simpatik.
          4. Setia kawan.
        18. Salah satu cara mengembangkan sikap tenggang rasa:
          1. Menyadari bahwa setiap orang memiliki perasaan yang berbeda-beda.
          2. Menjauhi sifat-sifat tercela.
          3. Memperbanyak mencari teman.
          4. Bercita-cita setinggi langit.
        19. Berikut sikap yang harus dikembangkan untuk menumbuhkan sikap tenggang rasa, yakni:
          1. Empati.
          2. Ekstrimisme.
          3. Individualisme.
          4. Egoisme.
        20. Sikap tenggang rasa bagi kehidupan berbangsa dan bernegara menopang hal-hal sebagai berikut, kecuali:
          1. Menjamin persatuan dankesatuan.
          2. Mempercepat tercapainya tujuan negara.
          3. Menciptakan kerukunan hidup bermasyarakat.
          4. Menjamin kesejahteraan masyarakat.
        21. Untuk mengembangkan sikap tenggang rasa, hal-hal yang perlu dilakukan tampak seperti di bawah ini, kecuali:
          1. Menyadari sebagai makhluk bermasyarakat.
          2. Peka terhadap keperluan dan perasaan orang lain.
          3. Tidak peduli dengan kehidupan orang lain.
          4. Memikirkan akibat dari perbuatan kita sebelum bertindak.
Posted in Uncategorized | Leave a comment

KEGIATAN MENGAJAR

No. Hari Waktu Kegiatan
1. Senin 07.00 Tiba di Sekolah
07.15-07.45 Melaksanakan Upacara Bendera
07.45-07.50 Masuk Kelas

Mengisi Daftar Hadir

Mengkondisikan Siswa

Berdo’a

Mengabsen dan Apersepsi

07.50-09.15 Memberikan Materi Pelajaran B. Indonesia

1.       Membaca nyaring teks (15-20 kata) dengan memperhatikan lafal dan intonasi yang tepat.

2.       Menjawab pertanyaan isi bacaan

09.15-09.45 Istirahat
09.45-10.55 Memberikan Materi Pelajaran IPA, yaitu tentang mengidentifikasi sumber-sumber energi (panas, listrik, cahaya dan bunyi) yang ada di lingkungan sekitar
10.55-12.05 Mengerjakan Administrasi Kelas
12.10 Pulang
   
2. Selasa 07.00 Tiba di Sekolah
07.00-07.05 Mempersiapkan Materi Pembelajaran
07.00-07.05 Masuk Kelas

Mengisi Daftar Hadir

Mengkondisikan Siswa

Berdo’a

Mengabsen dan Apersepsi

07.30-08.40 Praktikum Penjas

1.       Melakukan latihan dasar untuk meningkatkan kekuatan otot dada.

2.       Melakukan latihan dasar untuk mengingatkan kekuatan otot punggung

08.40-09.15 Memberikan Materi Pelajaran B. Indonesia

1.       Menyalin kalimat

2.       Membuat kalimat Tanya

3.       Melengkapi cerita berdasarkan gambar

09.15-09.45 Istirahat
09.45-10.20 Memberikan Materi Pelajaran B. Indonesia :

Menyalin puisi dengan huruf tegak bersambung.

10.20-11.30 Memberikan Materi Pelajaran IPA :

Mengidentifikasi jenis energi yang paling sering digunakan di lingkungan sekitar dan cara menghematnya

11.30-12.05 Mengerjakan Administrasi Kelas
12.10 Pulang
3. Rabu 07.00 Tiba di Sekolah
07.00-07.05 Mempersiapkan Materi Pembelajaran
07.00-07.05 Masuk Kelas

Mengisi Daftar Hadir

Mengkondisikan Siswa

Berdo’a

Mengabsen dan Apersepsi

07.30-08.40 Memberikan Materi Pelajaran Matematika :

Melakukan pembagian bilangan dua angka

08.40-09.15 Memberikan Materi Pelajaran PKn :

Menampilkan sikap demokrasi

09.15-09.45 Istirahat
09.45-10.20 Memberikan Materi Pelajaran PKn

Menghargai suara terbanyak

10.20-11.30 Memberikan Materi Pelajaran B. Sunda :

Macam-macam sasatoan

11.30-12.05 Mengerjakan Administrasi Kelas
12.10 Pulang
4. Kamis 07.00 Tiba di Sekolah
07.00-07.05 Mempersiapkan Materi Pembelajaran
07.00-07.05 Masuk Kelas

Mengisi Daftar Hadir

Mengkondisikan Siswa

Berdo’a

Mengabsen dan Apersepsi

07.30-08.40 Memberikan Materi Pelajaran Matematika :

Melakukan operasi hitung campuran

08.40-09.15 Memberikan Materi Pelajaran B. Indonesia :

Melengkapi cerita

09.15-09.45 Istirahat
09.45-10.20 Memberikan Materi Pelajaran B. Indonesia :

Menjawab pertanyaan dari isi cerita

10.20-11.30 Memberikan Materi Pelajaran B. Sunda :

Ngapalkeun sasatoan nu aya di imah

11.30-12.05 Mengerjakan Administrasi Kelas
12.10 Pulang
5. Jum’at 07.00 Tiba di Sekolah
07.00-07.05 Mempersiapkan Materi Pembelajaran
07.00-07.05 Masuk Kelas

Mengisi Daftar Hadir

Mengkondisikan Siswa

Berdo’a

Mengabsen dan Apersepsi

07.30-08.40 Memberikan Materi Pelajaran Matematika :

Mengenal unsur-unsur bangun datar sederhana

08.40-09.15 Memberikan Materi Pelajaran Seni Budaya :

Mengidentifikasi unsur rupa pada karya seni

09.15-09.45 Istirahat
09.45-10.20 Memberikan Materi Pelajaran Seni Budaya :

Mengelompokan berbagai bidang bentuk

10.20-11.00 Mengerjakan Administrasi Kelas
11.00 Pulang
6. Sabtu 07.00 Tiba di Sekolah
07.00-07.05 Mempersiapkan Materi Pembelajaran
07.00-07.05 Masuk Kelas

Mengisi Daftar Hadir

Mengkondisikan Siswa

Berdo’a

Mengabsen dan Apersepsi

07.30-08.40 Memberikan Materi Pelajaran IPS :

Menceritakan pengalamannya dalam melaksanakan peran dalam anggota keluarga

08.40-09.15 Memberikan Materi Pelajaran PAI :

Materi disampaikan oleh Guru PAI

09.15-09.45 Istirahat
09.45-14.00 Mengikuti Kegiatan Gugus Bermutu
14.00 Pulang
Posted in Uncategorized | Leave a comment

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Posted in Uncategorized | 1 Comment